Sinopsis Film Negeri Tanpa Telinga: Kritik Politik dalam Balutan Drama

6 Juni 2025 Sinopsis Film Negeri Tanpa Telinga: Kritik Politik dalam Balutan Drama

Film Negeri Tanpa Telinga merupakan salah satu karya penting dalam perfilman Indonesia yang mengangkat tema politik dengan pendekatan dramatis dan penuh pesan moral. Disutradarai sekaligus diproduseri oleh Lola Amaria, film ini menghadirkan cerita yang sarat akan kritik terhadap realitas politik yang ada di negeri ini. Dengan durasi sekitar 109 menit, film ini mengajak penonton menyelami kisah rumit di balik layar kekuasaan dan korupsi.

Profil Singkat Film Negeri Tanpa Telinga

Dirilis pada tahun 2014, film ini diproduksi oleh Lola Amaria Production dengan naskah yang digarap bersama oleh Lola Amaria dan Indra Trenggono. Pemeran utama dan pendukungnya terdiri dari aktor dan aktris ternama Indonesia, seperti Ray Sahetapy, Teuku Rifnu Wikana, Kelly Tandiono, Jenny Zhang, Lukman Sardi, dan Landung Simatupang.

Film ini menampilkan jalan cerita yang padat dan sarat makna, disajikan dengan dialog-dialog yang mengandung pesan tersirat. Meski temanya berat dan serius, gaya penyampaian film ini dibuat sederhana agar bisa dinikmati oleh berbagai kalangan penonton tanpa kehilangan esensinya.

Plot Utama Film Negeri Tanpa Telinga

Cerita film ini berfokus pada Naga, seorang tukang pijat yang punya kemampuan mendengar percakapan berbagai orang penting yang datang ke tempatnya. Melalui telinganya, Naga menyimak berbagai skandal dan konspirasi yang sedang berlangsung di balik kekuasaan elite politik di negeri ini.

Konflik mulai memanas ketika Naga mengetahui bahwa kedua partai besar di negeri itu, yakni Partai Amal Syurga dan Partai Martobat, sedang merancang skema kotor untuk menguasai kekayaan negara. Ustadz Etawa, ketua Partai Amal Syurga, bekerja sama dengan importir daging domba untuk mengalihkan dana negara demi kepentingan partainya.

Sementara itu, Piton, ketua umum Partai Martobat yang bercita-cita menjadi presiden, melakukan berbagai upaya mendapatkan dana besar dengan menggunakan pengaruhnya di parlemen. Di balik layar, Tikis Queenta, seorang pelobi wanita ulung, memainkan peran penting dengan kemampuannya menembus setiap lini pemerintahan dan partai.

Ketegangan bertambah ketika Kapak, lembaga anti korupsi yang cermat, mulai menelusuri jejak kedua partai tersebut. Penyelidikan ini membuat skandal dan rencana jahat itu hampir terbongkar.

Makna dan Pesan yang Disampaikan

Film Negeri Tanpa Telinga bukan hanya sekadar cerita fiksi, tetapi juga cerminan nyata dari keadaan politik Indonesia yang penuh dengan intrik, korupsi, dan pertarungan kekuasaan. Naga, tokoh sentral, melambangkan suara rakyat yang mendengar dan menyaksikan praktik-praktik buruk para elit politik, namun merasa tidak berdaya.

Permintaan Naga kepada dokter Sangkakala untuk menulikan telinganya menjadi simbol keputusasaan dan keinginan rakyat agar tidak lagi mendengar kebohongan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjadi pelayan negara.

Kisah ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya kesadaran politik dan pengawasan terhadap para pemimpin, agar tidak ada ruang bagi korupsi dan manipulasi yang merugikan rakyat banyak.

Performa Pemeran dan Produksi

Penampilan para aktor dalam film ini sangat mendukung kekuatan cerita. Ray Sahetapy tampil meyakinkan sebagai figur otoritatif, sementara Teuku Rifnu Wikana dan Kelly Tandiono memberikan nuansa segar dan intens dalam peran mereka. Keberadaan Jenny Zhang dan Landung Simatupang pun menambah kedalaman karakter dan dinamika cerita.

Selain itu, penyutradaraan Lola Amaria yang juga memproduseri film ini menunjukkan kepekaannya dalam mengangkat isu sosial-politik secara jernih dan kritis. Sinematografi yang digunakan pun sederhana namun efektif dalam menghadirkan atmosfer mencekam yang sesuai dengan tema film.

Kesimpulan

Film Negeri Tanpa Telinga adalah karya yang wajib ditonton bagi siapa saja yang ingin memahami sisi gelap politik Indonesia melalui medium film. Dengan alur cerita yang kuat, karakter yang kompleks, dan pesan sosial yang dalam, film ini memberikan sudut pandang kritis yang penting untuk direnungkan.

Bagi penikmat film drama dengan tema politik, Negeri Tanpa Telinga memberikan pengalaman menonton yang menggugah sekaligus mengedukasi tentang bahaya konspirasi dan korupsi dalam pemerintahan. Film ini mengingatkan bahwa suara rakyat harus didengar, bukan ditutupi atau diabaikan.